Senin, 21 November 2016

Puisi Ranting Yang Hilang Menyentuh Hati oleh Pak Lukito Edi Nugroho/Dosen Ft UGM

Silahkan baca artikel Sepenggal Cerita Dari Mamuju yang admin posting kemarin.

Betapa bahagianya ketika kita menikah dengan perempuan yang kita cintai dan dalam pernikahan itu kita diberi keturunan yang sholih /sholihah oleh sang ilahi. Tentu hal itu menambah kebahagiaan tersendiri bagi kita. Dan pasti kita juga akan merasa sangat kehilangan apabila orang yang kita cintai dan sayangi telah diambil kembali oleh Allah SAW.

Seperti kisah berikut ini :

Ini adalah tulisan yg ditulis oleh pak Lukito Edi Nugroho/dosen FT UGM yang ditinggal putrinya tercinta, *Rizka Fitri Nugraheni, mhswi S2 Fak. Psi. UGM* yg mengalami kecelakaan dijalur Bromo-Nongkojajar.

Monggo dipun waos bagi yg berkenan... ini adalah keikhlasan org tua yg ditinggal oleh putri tercintanya.

RANTING YG HILANG

Sebuah ranting dari pohon itu tiba-tiba patah.

Tidak ada lagi yang mengajak, "Bapak, ayo sholat berjamaah”.

Tidak terlihat lagi lampu kamar yang menyala di sepertiga malam terakhir karena si empunya malam sedang sholat tahajjud.

Tidak ada lagi sosok perempuan mungil yang menyiapkan sahur di ruang makan menjelang subuh setiap hari Senin dan Kamis.

Tidak terdengar lagi lantunan ayat-ayat suci Al-Quran setelah kami selesai sholat subuh.
Tidak ada lagi yang menyambut dengan ucapan, ”Halo bapak…” saat bapaknya pulang dari kampus.

Tidak ada lagi yang meminta waktu untuk berdiskusi tentang kehidupan.

Tidak ada lagi pelukan hangat setelah nasihat-nasihat kepadanya tersampaikan.

Dan tidak ada lagi senyum khas yang disertai tatapan mata yg lembut setiap kali pandangan kita bertemu…senyum dan tatapan yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun…

Kamu telah pergi Nduk, meninggalkan kami semua.
Tetapi kamu pergi dengan meninggalkan banyak pelajaran bagi kami.

Kamu mengajari bapak, ibu, dan adik-adikmu tentang keshalihan.

Kamu mengajari kami sekeluarga tentang bagaimana manusia membangun hubungan dengan Sang Khalik.

Kamu mengajari kami semua tentang kekuatan sebuah keluarga.

Kamu mengajari seluruh isi rumah ini tentang persistensi dalam belajar dan menuntut ilmu.
Banyak sekali Nduk yang kamu tinggalkan kepada kami…

Dan kemarin setelah sholat subuh… Kami berjanji akan meneladani apa yang telah kamu tunjukkan selama ini.

Bapak akan melanjutkan belajar bagaimana berlaku sebagai bapak yang baik bagi adik-adikmu.

Demikian juga dengan ibu.

Adik-adikmu akan mencontoh semangat belajarmu, semangat menuntut ilmumu.

Kami semua akan belajar menumbuhkan keshalihan, seperti yang telah kau tunjukkan.
Kami tetap akan belajar, meskipun kamu sudah tidak berada di antara kami lagi.

Karena dengan cara itulah kami akan selalu mengenangmu.

Karena dengan cara itulah kamu akan tetap selalu berada di hati kami semua.

Dan tiba-tiba saja muncul kesadaran…tentang bagaimana Tuhan sangat menyayangimu.

Dengan sholatmu, puasamu, mengajimu, hormatmu kepada bapak dan ibu, sayangmu kepada adik-adikmu, semangat belajarmu, rasa sosialmu kepada orang lain…bagaimana kami tidak yakin bahwa Tuhan sangat…sangat menyayangimu.

Dan ketika gurumu menyampaikan kepada kami tentang bagaimana setelah proses evakuasi, *kamu masih meminta dipasangkan jilbabmu* karena kamu ingin *sholat* selama di ambulans yang membawamu ke rumah sakit… hilanglah semua keraguan kami tentang apa yang akan kamu jalani di alam sana, Nduk.

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Dia akan menempatkanmu pada derajad yang jauh lebih baik.

Sementara kami…melalui dirimu, kami ditunjukkan oleh-Nya pelajaran yang sangat berharga. Tentang keshalihan, tentang keluarga, tentang menuntut ilmu, dan banyak pelajaran lainnya yang sangat bermanfaat bagi kami dalam melanjutkan hidup kami.
Tiba-tiba kami tertunduk.
Tiba-tiba terpampang sebuah hikmah yang luar biasa.

Bagaimana Tuhan mengatur semuanya dengan sangat sempurna.

Dia mengambil permata hati kami, tetapi Dia menempatkannya pada tingkat yang jauh lebih baik.

Dan Dia mengajarkan kepada kami hal-hal yang kami perlukan untuk meningkatkan kualitas hidup kami.

Tidak sanggup kami mengangkat pandangan ketika mengingat nikmat-Mu ini…

Nduk, bapak menulis catatan ini dengan berurai air mata.

Bapak sedih mengingatmu, tapi kesedihan bapak diliputi oleh kesyukuran yang luar biasa.

Melalui dirimu, Tuhan telah memberikan nikmat yang luar biasa kepada bapak, ibu, dan adik-adikmu…

Kamu telah mendahului kami, Nduk.
Tapi engkau tidak pernah pergi dari kami.

Engkau tidak pernah meninggalkan kami, karena engkau akan tetap berada di hati kami.

Selamanya…
Salah satu ranting pohon itu memang hilang, tapi pohon itu bahkan akan bertambah kuat, bertambah rindang.

Pohon itu masih akan melanjutkan fungsinya, memberikan keteduhan bagi siapapun yang berada di sekelilingnya.


Itulah puisi Ranting Yang Hilang, yang sangat mengharukan dari Pak. Lukito Edi Nugroho. Semoga beliau diberi ketabahan hati oleh tuhan. Jangan lupa sayangi anak anda karna anak adalah titipan dan anugerah terindah bagi kita semua.

Sumber: Fb Ir. Lukito Edi Nugroho

Minggu, 20 November 2016

Sepenggal Cerita Dari Mamuju

sulbarkita.com
Ini adalah catatan perjalanan Riyan ke Mamuju akhir Bulan lalu. Mamuju adalah kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat. Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Penerbangan dari Makassar hanya diadakan sekali dalam sehari. Tetapi pria itu lebih memilih naik bus yang ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam.

Kota Mamuju suasananya sangat sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota provinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Juga tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak dan sedang dalam perbaikan.

Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

Mamuju sebagai ibukota provinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan di sini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak.

Provinsi Sulawesi Barat seperti sebuah "propinsi kaget", dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel di sini. Yang sempat ia lihat adalah penginapan Srikandi, Samudra Beach, Hotel Mutiara, dan hotel d'Maleo. Hotel d'Maleo terletak di pinggir pantai Manakarra, yang saat ini sedang dalam pembangunan. Banyak gundukan tanah untuk menimbun pinggir pantai.

KotaMamuju.com
Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. Atau malah tidak ada? Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak di jumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan Jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut atau soto Lamongan.

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah.

Walaupun kalau lama-lama di sini bisa mati gaya juga sih, apalagi kita sudah terbiasa hidup di kota besar. Atau jangan-jangan malah bisa lupa harus pakai sepatu ketika masuk kerja atau menghadap pejabat. Hehe. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana?


Itulah Sepenggal Cerita Dari Mamuju yang dapat admin posting, lalu apa cerita anda di hari ini? Silahkan ceritakan di kolom komentar.