Minggu, 20 November 2016

Sepenggal Cerita Dari Mamuju

sulbarkita.com
Ini adalah catatan perjalanan Riyan ke Mamuju akhir Bulan lalu. Mamuju adalah kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat. Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Penerbangan dari Makassar hanya diadakan sekali dalam sehari. Tetapi pria itu lebih memilih naik bus yang ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam.

Kota Mamuju suasananya sangat sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota provinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Juga tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak dan sedang dalam perbaikan.

Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

Mamuju sebagai ibukota provinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan di sini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak.

Provinsi Sulawesi Barat seperti sebuah "propinsi kaget", dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel di sini. Yang sempat ia lihat adalah penginapan Srikandi, Samudra Beach, Hotel Mutiara, dan hotel d'Maleo. Hotel d'Maleo terletak di pinggir pantai Manakarra, yang saat ini sedang dalam pembangunan. Banyak gundukan tanah untuk menimbun pinggir pantai.

KotaMamuju.com
Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. Atau malah tidak ada? Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak di jumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan Jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut atau soto Lamongan.

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah.

Walaupun kalau lama-lama di sini bisa mati gaya juga sih, apalagi kita sudah terbiasa hidup di kota besar. Atau jangan-jangan malah bisa lupa harus pakai sepatu ketika masuk kerja atau menghadap pejabat. Hehe. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana?


Itulah Sepenggal Cerita Dari Mamuju yang dapat admin posting, lalu apa cerita anda di hari ini? Silahkan ceritakan di kolom komentar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar