Puisi Ranting Yang Hilang Menyentuh Hati oleh Pak Lukito Edi Nugroho/Dosen Ft UGM-
Sarapan Kopi Bersama Kata
Kopi itu wangi bila diseduh air panas. Gula menjadikannya manis. Dan rasa mantab didapat dari gabungan semuanya.
Atau bolehlah ditambah atau digantikan susu.
Mari cium aroma hidup dari secangkir kopi. Biarkan syaraf lidah mencecap bahwa tetap ada pahit si kopi, ada manis si gula, ada legit si susu, dan rasa segar dari campurannya.
Hirup aromanya melalui syaraf hidung menuju syaraf otak dan biarkan ia mengabarkan bahwa hidup kita menyenangkan dengan campuran semua itu.
Maka lihatlah kita dengan beragam pilihan hidup, mirip espresso, americano, capuccino, latte, atau moca.
Kalau hidup yang kita inginkan sudah kita pilih, kita akan mendapatkan bahagia di dalamnya.
Seperti apa rupa-rupa itu ia tetap membahagiakan. Karena hidup kita milik kita. Dan kitalah si pencecap itu.
JADILAH AGEN PERUBAHAN
Oleh. Naser Muhammad
.
Menulis itu bukan sekedar kesenangan, tapi ia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang hadir saat diri ini bisa memberi manfaat seluas-luasnya bagi orang lain. Bukan kah Khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia, yang paling bermanfat bagi orang lain.
.
Menulis itu mewariskan, mewariskan kebaikan lewat tulisan, namun ia juga bisa mewariskan nilai buruk jika kita tak berhati-hati merangkai kata.
.
Menulislah dengan niat untuk mewariskan kebaikan melahirkan generasi beradab sebagai tonggak peradaban.
.
Jadilah agen of change bagi peradaban yang tengah kamu jalani, jadilah motor penggerak bagi generasi masa depan negri ini, jangan jadi penikmat sejarah tapi jadilah bagian dari sejarah, jadilah pelaku sejarah.
.
Jangan menjadi silent rider, menjadi penonton diluar arena, menanti kemenangan usai dipertaruhkan bak sang oportunistis mencari titik aman, itu pencundang, kau tau!
.
Ikut bereforia tertawa atas keringat mereka yang bercucuran adalah pekerjaan begundal, sebuah hedoni yang menghegemoni yang teradopsi dari sistem kapitalisme. Tuhan materi.
.
Singsingkan lengan baju, mari berjibaku, terjun dalam lumpur peradaban baru, tuk ciptakan generasi yang tidak kaku, siap untuk bahu membahu, mengangkat beban menandu, menyongsong hari baru sebagai sang pembaharu.
Satu buku sebelum mati...
![]() |
| fachrezyrara.blogspot.com |
Sebait Puisi
Derita Hati
Kepada siapa kubertanya
Pada Awan yang berjalan tanpa kaki
Pada Bintang kerlap-kerlip menyinari
Pada Laut ombak pasang surut
Pada Gunung erupsi guncangkan Bumi
Pada dedaunan menyanyikan suara simponi
Pada siapa kubertanya
Pada hati yang tersakiti
Pada jiwa yang meronta
Pada nurani yang hampir mati
Pada siapa kubertanya
Entah ...
Pada siapa lagi 'ku akan bertanya
Adakah jiwa yang bisa menjawabnya
Adakah nurani bisa menjawabnya
Atau 'ku bertanya pada rumput-rumput ilalang yang gersang dan hampir kering
Belum juga kutemukan jawabannya
'Ku harap ada yang bisa menjawabnya
Nyanyian luka hati
Dari suara-suara yang bercengkrama
Di dalam kesunyian dia bicara
Tentang rasa
Tak ada yang bisa menjawabnya
Hanya Engkaulah ya Ilahi Rabbi
Akhir dari pencarian jati diri
Mengelana menembus bias-bias embun pagi
Hanya kepada-Mu ya Ilahi Rabbi
Yang bisa menjawab semua tanda tanya.
DESA KU
Naser Muhammad
Lengan pepohonan cengkeh berbaris-baris,
menyapa kepulanganku ia menangis,
sepuluh tahun lamanya terpisahkan oleh garis,
rindu bagai sembilu yang mengiris.
Desaku nan sederhana,
pancarkan ketenangan pancaroba,
tanah kelahiranku yang merana,
air susah tanah pun menyewa.
Sepuluh tahun terpisah,
rindu membuncah,
pulang tak bisa,
uang tak punya.
Desaku,
Rindu Tanahmu,
Rindu Airmu,
Rindu Apimu.
Desaku.
Hatiku.
Tunggu.
Pulangku.
![]() |
| http://daengbattala.com/2009/07/puisi-elegi-dini-hari/ |
Elegi di Sudut Malam
By : Chania Ditarora
Pada pundak sang malam
Ingin kusandarkan suka lara
Padanya kuceritakan lapis-lapis kenangan
Agar diterbang bebaskan ke angkasa
Jauh.... Hingga membenam di wajah bulan
Sang dewi malam sepertinya bermuram durja
Sedih....sebab kau akan segera berlalu
Pergi.. Berlari..
Meniti... Meninggalkan segala arti
Karena kau jualah mendung menggelayut manja
Bersandar di punggung langit
Hanya kelap-kelip bintang yang rela tersenyum
Menatap kau yang sedang berkemas
Dibalik jendela malam
Kau mengintip
Berharap pada sesiapa kau titip
Iya..kau titip selaksa salam, kau goreskan kalam di dinding kelam
Sebuah kata berkonsonan vokal merupa selimut hangat bagi prosesi ini
Sebuah kata " perpisahan "
Sebuah kata yang menjelma segores sajak
Menghadirkan suasana syahdu sejenak
Tersebab kau akan pergi
Sore bersedih, sembari menyalami malam
Lirih ia berbisik hantarkan sekuntum kenangan
Tangis langit sore kian pilu
Seakan meratapi perpisahan ini
Apa daya hukum alam tak pernah menipu
Perjumpaan seia sekata dengan perpisahan begini
Cukuplah sajak picisan ini menjadi salam pisah
Semoga kisah ini selalu terbingkai indah
Dalam ingatan nan megah
Untuk kau simpan sebagai kado terindah
Tanpa ada igauan keluh dan kesah
Ada dan tiada
Waktu berlama - lama pun tlah dilalui
Bercerita, bercanda, dan tertawa bersama
Alam berbisik menggeltik
Akankah masih ada sisa waktu
Buat mengukir sekelumit kata
Jarak pandang makin terbentang
Antara aku, kau dan dia
Waktulah yang bisa berkata
Senja di mata kita hanya fatamorgana
Yang selalu mengisi setiap sudut membawa hati
Terbang mengitari malam
Dan bertengger pada satu titik kebekuan
Itulah Puisi Bebas Pendek yang bisa admin posting kali ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar